Selasa, 23 Januari 2018

JUJUR

JUJUR
Oleh :  Dr Amir Faishol Fath
            Banyak orang mengajar kebahagiaan dibalik kemegahan materi. Padahal, itu semua hanya kesemuan belaka. Kalau ingin bahagia jujurlah. Jujur kepada Allah sebagai hamba-NYA, jangan basa-basi dan jangan setengah-setengah. Jujur sebagai suami maka selalu menjauhi dosa dan memberikan nafkah secara halal dan maksimal. Jujur sebagai istri maka selalu menjaga kehormatandiri dan harta suami dan benar-benar menjadi tempat berteduh bagi suami. Jujur sebagai pemimpin maka selalu menjunjung tinggi asa musyawarah dan bekerja keras untuk menegakkan keadilan dan memastikan kesejahteraan rakyatnya.
            Bila kejujuran seperti diatas terwujud, banyak hikmah yang akan dipetik. Pertama, jujur akan mengantarkan ke surga. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan ke surga … dan sungguh kebohongan akan mengantarkan kepada kepada dosa, dan dosa akan mengantarkan kepada ke neraka …” (HR Bukhari-Muslim).
            Berdasarkan ini, jelas bahwa tidak mungkin kebaikan akan datang jika manusia yang berkumpul di dalamnya adalah para pembohong dan pendusta. Bila di tengah mereka menyebar kebohongan maka otomatis dosa akan semakin merajalela. Bila dosa merajalela maka jaminannya adalah neraka.
            Kedua, jujur akan melahirkan ketenangan.Rasulullah SAW bersabda,”…maka sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kebohongan adalah keraguan..” (HR Turmudzi). Orang yang selalu jujur akan selalu tenang. Sebaliknya, para pembohong selalu membawa kebusukandan kebusukan itu membawa kegelisahan akibat kebusukannya. Ia akan selalu dihantui dengan kebohongann. Sebaliknya, para pembohong selalu membawa kebusukandan kebusukan itu membawa kegelisahan akibat kebusukannya. Ia akan selalu dihantui dengan kebohongannya dan takut hal itu akan terbongkar. Dan bila seorang pembohong seperti ini menjadi pemimpin maka ia tidak akan sempat mengurus rakyatnya, karena ia sibuk menyembunyikan kebusukan dalam dirinya.
            Ketiga, jujur disukai semua masyarakat. Abu sofyan pernah ditanya oleh Heraklius mengenai dakwah Rasulullah SAW. Abu sofyan menjelaskan bahwa diantara dakwahnya adalah mengajak berbuat jujur. (HR Bukhari-Muslim).
            Rasulullah SAW dikenal sebagai manusia yang paling jujur. Bahkan, sebelum kedatangan Islam, beliau sudah masyhur sebagai orang yang jujur. Orang-orang kafir Makkah pun mengakui kejujuran Rasulullah SAW, sekalipun mereka tidak beriman. Bahkan, mereka memberi gelar al-Amin (orang yang terpercaya) kepada Rasulullah. Selain itu, mereka juga selalu menitipkan barang berharga kepada Rasul SAW.
            Keempat, jujur akan mengantarkan pelakunya pada derajat yang lebih tinggi. Rasulullah SAW bersabda, “siapa yang memohon dengan jujur untuk mati syahid, (maka ketika ia wafat) ia akan tergolong syuhada sekalipun mati di atas kasurnya (HR Muslim)
            Dan kelima, jujur akan mengantarkan pada keberkahan. Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa seorang pembeli dan pedagang yang jujur dalam melakukan transaksi perdagangannya maka ia akan diberkahi oleh Allah. Sebaliknya, jika menipu maka Allah akan mencabut keberkahan dagangannya (HR Bukhari-Muslim). Wallahu a’lam.
REPUBLIKA.CO.ID
Dikutip dari :
Bulettin Jum’ah AD-DAKWAH

Diterbitkan oleh IKMI KOORWIL RIAU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar